My Blog List

Pages

About

Archives

Sabtu, 30 April 2011

DISMENORRHOE (nyeri haid)

Menstruasi atau haid sama tuanya dengan sejarah umat manusia, namun sampai sekarang masih merupakan topic yang banyak menarik minat sebagian besar kalangan wanita, karena setiap bulannya wanita selalu mengalami menstruasi. Pada sebagian wanita, masa haid atau menstruasi ini merupakan masa yang menyiksa, dikarenakan proses haid tersebut disertai dengan rasa nyeri atau rasa sakit. Sebenarnya normal wanita merasa nyeri, hanya terkadang seorang wanita merasakan nyeri haid yang amat sangat, sehngga sampai mengganggu aktivitasnya.

Lebih dari 50% wanita pernah mengalami nyeri haid. Sakit menusuk, nyeri hebat di sekitar perut bagian bawah dan kadang mengalami kesulitan berjalan sering dialami wanita ketika nyeri haid menyerang . Nyeri ini dapat berlangsung setengah sampai lima hari. Banyak wanita terpaksa harus berbaring, sehingga tidak dapat mengerjakan sesuati apapun. Ada yang pingsan, merasa mual sampai muntah (Kingston, 1995).

Edmundson (2006) dalam penelitian epidemiologi di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa prevalensi kejadian nyeri haid diperkirakan sekitar 45% sampai 90%. Penelitian tahun 2004 mengenai prevalensi nyeri haid pada mahasiswi sebuah universitas di Jakarta menemukan 83,5% mahasiswi mengalami nyeri haid (Almazini.2009, http://myhealing.wordpress.com, diakses tanggal 16 februari 2010).

Hasil penelitian yang dilakukan Gunawan (2002) pada empat SLTP di Jakarta, menunjukkan bahwa sebanyak 76,6% siswi tidak masuk sekolah karena nyeri haid yang dialami, nyeri haid paling sering muncul pada usia 12 tahun dengan prevalensi 46,7% siswi, prevalensi keluhan yang menyertai haid diantaranya 37,4% siswi mengeluh pusing; 16,6% siswi mengeluh sakit kepala; 10,7% siswi mengeluh mual. Nyeri haid pada sebagian besar siswi sebanyak 64,3% tersebut tidak menyebabkan gangguan aktivitas dan tidak perlu obat; 27,6% siswi memerlukan obat dengan sebagian aktivitas terganggu dan 83% siswi dengan aktivitas sangat terganggu meskipun telah mengkonsumsi obat. Penelitian Alkaff (1996) melaporkan 52% pelajar di Yogyakarta tidak dapat melakukan aktivitas harian dengan baik selama menstruasi (Samsul, 1997). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nyeri haid banyak mengganggu aktivitas remaja.

Dari hasil studi pendahuluan pada siswi kelas 7 dn 8 SMP Negeri 2 Jiwan Kabupaten Madiun, didapat 73 siswi mengalami nyeri haid. Sedangkan hasil wawancara langsung pada 20 siswi, didapatkan sebanyak 25% siswi (5 orang) pernah tidak mengikuti proses belajar mengajar karena nyeri haid yang dialaminya.

Untuk mengatasi nyeri haid ketika menstruasi dapat menggunakan terapi medis maupun non medis. Menurut Tamsuri (2007) nyeri haid dapat diatasi dengan tekhnik distraksi (pengalihan) dan relaksasi (menenangkan diri) dengan nafas dalam, sedangkan untuk terapi medis dapat menggunakan obat penghilang rasa sakit (analgetik) seperti aspirin atau dengan pemberian hormon antiprostalgandin yang bertujuan untuk mengurangi kekuatan kontraksi uterus (Adhi, 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar